Keberhasilan Indonesia meraih empat medali emas dan tiga medali perak pada SEA Games Thailand 2025 ternyata belum cukup untuk mempertahankan cabang olahraga panjat tebing dalam daftar pertandingan SEA Games 2027 di Malaysia. Komite Eksekutif Federasi Pesta Olahraga Asia Tenggara (SEAGF) telah menetapkan 43 cabang olahraga dengan total 473 nomor pertandingan. Namun, panjat tebing tidak termasuk dalam daftar tersebut.
Keputusan tersebut cukup mengejutkan, mengingat Indonesia memiliki catatan prestasi yang membanggakan dalam dua penyelenggaraan SEA Games yang mempertandingkan panjat tebing. Pada SEA Games 2011 di Palembang dan Jakarta, Indonesia berhasil mengumpulkan sembilan medali emas dari 10 nomor yang dipertandingkan. Sementara pada SEA Games 2025 di Bangkok, Thailand, tim panjat tebing Indonesia sukses membawa pulang empat medali emas dari enam nomor lomba.
Hal menarik lainnya adalah sebagian besar medali emas pada SEA Games 2025 berhasil dipersembahkan oleh atlet-atlet berusia muda. Ardana Cikal Damarwulan dan Alma Ariella Tsany yang menjadi juara pada nomor lead putra dan putri masih berada dalam kelompok usia U17. Prestasi serupa juga ditorehkan Antasyafi Robby Al Hilmi dan Puja Lestari yang memenangkan nomor speed perorangan putra dan putri, meskipun keduanya masih berada dalam kategori U19.
Bagi Pengurus Pusat Federasi Panjat Tebing Indonesia (PP FPTI), SEA Games bukan hanya menjadi ajang perebutan medali, tetapi juga kesempatan bagi atlet muda untuk menunjukkan kemampuan dan mempersiapkan diri menuju kompetisi yang lebih tinggi, seperti Asian Games dan Olimpiade. Hal ini menjadi bagian dari upaya meneruskan pencapaian para atlet senior yang telah mengharumkan nama Indonesia di tingkat internasional.
Prestasi tersebut terlihat dalam berbagai kompetisi besar. Pada Asian Games 2026 di Aichi-Nagoya, atlet panjat tebing Indonesia Desak Made Rita berhasil menyumbangkan satu medali emas melalui nomor speed perorangan putri. Sebelumnya, Veddriq Leonardo juga sukses meraih medali emas pada nomor speed perorangan putra di Olimpiade Paris 2024.
Sekretaris Umum PP FPTI, Wahyu Pristiawan Buntoro, menjelaskan bahwa pencapaian para atlet tidak diperoleh secara instan. Menurutnya, keberhasilan tersebut merupakan hasil dari latihan yang konsisten, program pembinaan yang terarah, serta dukungan kompetisi berkualitas di dalam negeri.
Selama ini, nomor speed masih menjadi andalan Indonesia karena mampu memberikan prestasi dalam berbagai ajang internasional, mulai dari SEA Games, Asian Games, hingga Olimpiade. Meski begitu, perkembangan nomor lead juga menunjukkan kemajuan yang patut diperhitungkan oleh negara-negara pesaing. Salah satu buktinya adalah keberhasilan Putra Tri Ramadani atau yang dikenal dengan nama Srondeng, yang berhasil menempati posisi kedua dalam World Climbing Series 2026.
Dengan tidak dipertandingkannya panjat tebing pada SEA Games 2027 di Malaysia, Indonesia bukan sekadar kehilangan peluang untuk menambah koleksi medali. Keputusan tersebut juga berdampak pada berkurangnya kesempatan bagi atlet muda untuk mendapatkan pengalaman bertanding dan mengembangkan kemampuan sebelum melangkah ke kompetisi yang lebih tinggi, seperti Asian Games dan Olimpiade.
Pristiawan menegaskan bahwa persoalan ini bukan hanya berkaitan dengan kepentingan cabang olahraga panjat tebing. Absennya cabang tersebut juga berpotensi mengurangi jumlah medali yang dapat diperjuangkan kontingen Indonesia pada SEA Games 2027.
